PEMAPARAN DIRJEN PDASHL

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

KEPADA MEDIA TENTANG BANJIR DI JAKARTA

DAN TANAH LONGSOR DI PUNCAK BOGOR

PADA TANGGAL 5 FEBRUARI 2018

 

A.     Kejadian Banjir di Jakarta

DAS merupakan seluruh wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan sungai dan anak sungai, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang dibatasi oleh pemisah topografis/gigir gunung. Dalam wilayah administrasi DKI Jakarta terdapat 6 DAS yaitu DAS Angke-Pesanggrahan, Krukut, Ciliwung, Sunter, Buaran, dan Cakung. Total luas 6 DAS 150.890 Ha.

Kejadian banjir di Jakarta merupakan fenomena alam yang terjadi dikarenakan debit aliran sungai melebihi daya tampungnya. Penyebab terjadinya banjir di wilayah Jakarta adalah hujan yang turun selama 3 hari (3-5 Februari 2018) berturut-turut baik di bagian hulu maupun di hilir DAS, dengan curah hujan berat/ekstrim terjadi pada tanggal 5 Februari 2018 di bagian hulu DAS Ciliwung (Citeko Puncak) sebesar 152 mm/hari. Hal ini didukung dengan kondisi penutupan lahan di DAS Ciliwung yang 72% merupakan lahan terbangun berupa pemukiman dan gedung sehingga keberadaan situ dan daerah resapan air yang berfungsi menampung aliran permukaan sangat jauh dari cukup. Kombinasi antara durasi dan intensitas hujan yang tinggi dengan kondisi penutupan lahan berupa pemukiman dan gedung menyebabkan perbandingan aliran permukaan terhadap curah hujan (koefisien run off) rata-rata DAS yang melalui Jakarta lebih dari + 80% (normal <50%).

Upaya pengendalian banjir dalam perspektif pengelolaan DAS, antara lain :

  • Di Daerah Hulu dibuat DAM Penahan 258 unit, Guly Plug 125 unit, dan kolam retensi 5.000 unit (DKI), 27.050 unit (hulu), terasering 994,10 ha
  •  Memperbanyak ruang terbuka hijau menjadi 10% dari luas wilayah (DKI), 1200 ha (hulu)
  • Pembuatan sumur resapan 165.000 unit (DKI), 380.776 unit (Hulu)

 

B. Kejadian Longsor di Puncak Bogor

Kejadian longsor di Puncak Bogor tanggal 5 Februari 2018 terjadi pada 5 titik bagian hulu DAS Ciliwung dengan ketinggian tempat antara 1.100-1.300 mdpl. Penyebab longsor ada 2, yaitu alam dan manusia.

a.    Faktor Alam

 1.    Curah hujan yang tinggi/ekstrim mencapai 152 mm/hari pada hari ketiga setelah 2 hari hujan berturut-turut di bagian hulu (Citeko)

 2.    Kelerengan lahan antara 15% - 25% yang berbukit dan bergelombang

 3.    Jenis tanah andosol/regosol yang peka terhadap erosi

 4.  Kondisi lahan potensial kritis

 

b.    Faktor Manusia

1.    Perencanaan tata ruang yang belum optimal

2.    Keterlanjutan aktivitas manusia di kawasan lindung

3.    Pemotongan tebing untuk jalan

4.    Aktivitas pertanian yang tidak memperhatikan KTA

5.    Kegagalan struktur dinding tanah

6.  Penegakan hukum di setiap sektor belum optimal

  • Tanda-tanda akan terjadi longsor antara lain:

a.    Terjadi tebing yang rapuh dan krikil jatuh

b.    Miringnya pohon/tiang listrik

c.    Terjadi rekahan tanah

d.    Keluarnya air dari tanah secara tiba-tiba

e.    Air sumur menjadi keruh

f.     Terjadi amblesan tanah tiba-tiba

g.    Tidak ada lagi air hujan tergenang

  • Antisipasi yang harus dilakukan antara lain:

a.    Mengenali daerah rawan longsor

b.    Jangan bangun pemukiman pada daerah rawan longosr

c.    Memelihara fungsi drainase secara optimal

d.    Menggunakan system terasering

e.    Menutup rekahan tanah

f.     Membuat tanggul penahan

g.    Tidak memotong tebing tegak lurus

h.    Tidak mendirikan rumah di sekitar sungai

i.     Pemanfaatan lahan sesuai peruntukan

  • Tindak lanjut yang akan dilakukan KLHK

a.    Mengusulkan reviu tata ruang dengan detail berbasis DAS

b.    Pelaksanaan RHL dan pembuatan bangunan KTA pada hulu baik di dalam maupun di luar kawasan hutan

c.    Pada lokasi kebun teh yang mempunyai kelerengan tinggi agar dikayakan dengan penanaman pohon perakaran dalam (agroforestry)

d.  Sosialisasi, penyuluhan, dan penegakkan hukum.

 

 

 

 

Atasi Kerusakan DAS Citarum dengan Menanam di Daerah Hulu

Kerusakan di Daerah Aliran Sungai Citarum terus diatasi. Sisa lahan kritis di DAS Citarum s/d 2018 seluas 58.123 ha akan diselesaikan selama 7 th sehingga setiap tahun diselesaikan 8.303 ha/thn (dalam kawasan seluas 3.464 ha dan luar kawasan hutan seluas 4.839 ha). Tahun 2018 sampai dengan tanggal 22 Februari 2018 BPDASHL telah memberikan bantuan bibit yang dikoordinir oleh Pangdam III Siliwangi sebanyak 46.140 batang.

Hari ini tanggal 22 Februari 2018 lokasi di Daerah Situ Cisanti, dilaksanakan penanaman seremonial oleh Presiden RI didampingi Menteri LHK dan rombongan 50 batang serta penanaman 1000 bibit kopi oleh 1000 orang masyarakat ditanam di sela-sela tanaman reboisasi konvensional BPDASHL Citarum Ciliwung yang ditanam oleh Perum Perhutani Jabar Banten.

Dalam rangka penyelamatan Citarum Pangdam III Siliwangi telah membuat persemaian seluas 1,2 ha yang akan dikembangkan menjadi 25 ha berkapasitas pembibitan sebanyak 25 juta batang dengan jenis tanaman antara lain damar, aren, sapu tangan, manglid, trembesi.

Sumber : BPDASHL Citarum Ciliwung dan BPDASHL Cimanuk Citanduy

Sumber Foto : Humas KLHK

Editor : Ditjen PDASHL

 

“WADUK HIJAU” UNTUK PERADABAN INDONESIA

Oleh Yuliarto & Saparis Soedarjanto*)

(Hutan di Daerah Rendang, Karangasem, Bali sebagai "Waduk Hijau", Orientasi Program RHL)

Dibelahan manapun dunia ini,  perkembangan peradaban manusia selalu terkait dengan keberadaan sumber-sumber air. Disamping untuk dimanfaatkan langsung, air menjadi pendukung esensial ketersediaan pangan, baik dari ternak maupun komoditas pertanian. Kita sangat beruntung karena secara geografis berada di daerah dengan potensi hujan yang tinggi. Alam kita-pun memiliki karakter sebagai penampung dan penyimpan air yang cukup besar. Ketersediaan air sepanjang musim-pun menjadi modal perkembangan peradaban yang menjanjikan. Menilik sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan kuno di Negara kita, banyak  ditemui sisa-sisa kerajaan selalu berasosiasi dengan sumber air (sungai dan mata air), dan kalau kita perhatikan, hutan di hulu sumber air tersebut selalu terjaga dan cenderung “dikeramatkan”, bahkan di Bali saat ini masih ditemui yang disebut dengan hutan “angker”. Dalam konteks kekinian, bentuk asosiasi tersebut, entah sadar atau tidak, menggambarkan digunakannya pendekatan bentang alam dalam perkembangan peradaban nenek moyang kita. Jauh sebelum konsep dan teori bentang alam tersebut ditemukan dan dikembangkan.

Adalah kodrat manusia untuk selalu mengembangkan peradabannya, namun potensi kerusakan yang ditimbulkan adalah keniscayaan. Krisis sumber daya air, baik ketersediaannya yang menurun maupun daya rusaknya yang meningkat adalah fakta yang banyak ditemui akhir-akhir ini. Berbagai bentuk kerugian-pun menghadang kita. Kerugian ekonomi akibat erosi di Pulau Jawa dikalkulasi Morgan (2005) sebesar U$ 400 juta per tahun. Dampaknya terhadap daya dukung sumber daya air pada posisi serius. Indeks ketersediaan air  Jawa dan Bali (dimana 60% penduduk   Indonesia bermukim)  berdasarkan survei 1986  sebesar 1.750 m3/kapita/th, termasuk kategori kritis menurut klasifikasi World Water Resources Institut (Weert, 1994). Bahkan hasil survey terbaru oleh BAPPENAS (2015), di P. Jawa dan Bali telah terjadi defisit air sebesar 105.786 juta m3, sedangkan di Nusa Tenggara sebesar 2.317 juta m3. Dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1,8 % per tahun serta laju kerusakan hutan dan lahan yang cenderung tinggi, dapat dibayangkan krisis sumber daya air yang mengancam. Pada musim kemarau, hampir selalu banyak pemberitaan mengenai kekeringan yang terjadi di berbagai wilayah Negara kita. Sebuah ironi, Negara kita dikarunia curah hujan yang tinggi, namun krisis sumber daya air menjadi isu di berbagai wilayah kita. Kejadian bencana akibat daya rusak air (banjir dan longsor) juga meningkat drastis. Laporan BNPB (2016) menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah kejadian bencana hidrometeorologis hingga 16 kali lebih tinggi dari jumlah kejadian bencana tahun 2002 dan menimbulkan kerugian yang sangat besar dan ancaman kelangsungan pembangunan nasional.

Menghadapi situasi tersebut, banyak sektor telah memobilisasi sumber daya yang dimiliki untuk memformulasikan strategi penanganannya. Upaya-upaya pembuatan waduk buatan menjadi semacam shock therapy yang ditawarkan. Hal tersebut sah-sah saja, namun yang perlu diperhatikan adalah perlunya dibarengi upaya-upaya yang tidak terlalu merubah bentang alam(landscape) atau memulihkan bahkan memantapkan bentang alam yang ada. Berdasarkan penilaian tersebut,  upaya rehabilitasi lahan melalui berbagai skema penanaman diharapkan bisa menjadi opsi efektif dalam menjawab krisis yang ada. Pola rehabilitasi yang dikembangkan Kementerian LHK tidak sekedar tanam menanam,  namun melalui serangkaian perencanaan berbasis bentang alam dengan mempertimbangkan keterkaitan berbagai atribut bentang alam dalam unit Daerah Aliran Sungai (DAS).  Sehingga terbangun hutan yang berperan sebagai “wadukhijau” untuk pengendalian bencana serta mampu mensuplai air secara kontinyu.

Hasil perhitungan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Bone Bolango, Gorontalo (2016)  di  Taman Nasional Bogani Nani Wartabone menunjukkan bahwa kemampuan taman nasional menyimpan air lebih besar dari waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.  Data  tersebut melegitimasi rehabilitasi hutan dan lahan sebagai program aksi penting dalam penyediaan infrastruktur sumber daya air. Bahkan dengan kemampuan hutan dalam penguapan (evapotranspirasi) dan menangkap awan (cloud stripping), serta mengendalikan infiltrasi dan limpasan,  menempatkan peran strategis hutan dalam produksi dan regulasi air, yang selanjutnya akan didistribusikan melalui pembuatan bangunan infrastruktur pengairan untuk berbagai penggunaan (konsumsi).  Air dengan kualitas yang baik, jumlah yang cukup dan mengalir terus menerus mampu menurunkan konsentrasi beban pencemar di sungai, danau atau waduk buatan.

Setting social ekonomi dan pembangunan wilayah-pun selalu melekat dalam inisisasi program tersebut. Air dari bending Paguyaman di Gorontalo untuk irigasi 6.880 ha sawah dengan produksi senilai Rp. 619 milyar/tahun sangat tergantung “wadukhijau” hutan suaka margasatwa Nantu. Program rehabilitasi kawasan konservasi yang telah dilaksanakan sejak 2014 ditujukan untuk memantapkan dan meningkatkan peran strategis tersebut. Komoditas kayu yang dihasilkan dari upaya rehabilitasi secara factual member andil besar terhadap industry kayu dan melibatkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Berdasarkan catatan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur (2017), kayu produksi dari hutan rakyat mendominasi suplai industry kayu Jawa Timur, yaitu 70% dari total kebutuhan bahan baku kayu industry atau sebesar 80 juta m3/tahun.  Sebuah gambaran,  upaya peningkatan fungsi DAS melalui program rehabilitasi memiliki peran  strategis dalam pemenuhan barang & jasa dalam konteks hulu-hilir (FAO, 1985).

Entitas “wadukhijau” tersebut menggambarkan makna rehabilitasi hutan dan lahan sebagai upaya mulia membangun peradaban yang tidak menafikkan kelangsungan “pelayanan alam” kepada manusia. Antara tahun 2015-2017 Kementerian LHK telah merehabilitasi lahan kritis seluas 599.783 ha. Masih jauh dari target 24,3 juta ha, dan keterlibatan para pihak sangat diperlukan. Dalam rangka menggalakkan peran serta tersebut, telah dibangun persemaian permanen sebanyak 51 dan 4 persemaian sederhana yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan produksi bibit 50 juta batang/tahun. Banyak tantangan yang dihadapi program ini agar berhasil. Dinamika penggunaan lahan yang begitu tinggi seakan berlomba dengan program ini, dan biasanya manfaat jangka panjang sering terpinggirkan oleh kepentingan sesaat. Campur tangan banyak pihak diperlukan untuk mengawal program ini. Sekali lagi, kesinambungan dan perkembangan peradaban manusia-lah orientasi program ini dan “wadukhijau”-lah opsi yang ditawarkan. Terserah kita bagaimana menyikapinya. Yang pasti kita dan anak cucu-lah yang menanggung konsekuensinya.

*) Direktorat Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai

     Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Aksi Tanam 10.000 Mangrove Serentak di 10 Kota Se-Indonesia

14 Januari 2018 pukul 10.00 WIB tepat aksi penanaman 10.000 batang mangrove serentak di 10 kota di Indonesia. Penanaman serentak tersebut dilaksanakan di Banda Aceh, Medan, Padang, Lampung Timur, Jakarta, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar masing-masing 1.000 batang mangrove. Aksi penanaman kali ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Koalisi Lestari Hutanku bersama fans artis yang baru naik daun yaitu Jefri Nichol.

Penanaman serentak 10.000 batang mangrove ini dipusatkan di Jakarta tepat di lokasi kawasan mangrove pantai indah kapuk blok Elang Laut. Penanaman dihadiri oleh Menteri LHK yang diwakilkan oleh Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Dr. Hilman Nugroho, Ketua LPAI Kak Seto Mulyadi, Artis Duta Lestari Lingkungan Jefri Nichol, Ketua Umum Koalisi Lestari Hutanku Fachrul Muchsen serta Miss Earth Indonesia 2017.

Siswa-siswi dari SD hingga SMA se-Jabodetabek dan Jefri Nichol Fans Club turut menanam mangrove. Anak-anak sangat antusias melakukan penanaman mangrove, dibuktikan dengan kemauan untuk menyelam air lumpur dengan kedalaman sekitar 50 cm. Penanaman yang dilakukan anak-anak sampai dewasa dipandu petugas dari Dinas Kehutanan provinsi DKI. Penanaman ini diprakarsai KLHK bersama Koalisi Lestari Hutanku sekaligus sebagai dukungan “Gerakan Tanam 25 Pohon Selama Hidup”.

PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA

DAN BULAN MENANAM NASIONAL 2017

Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (HMPI dan BMN) dilaksanakan tiap tahun pada tanggal 28 November. Pada tahun ini HMPI dan BMN diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2017 yang dihadiri oleh Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup dan KehutananDr. Siti Nurbaya, para Menteri Pada Kabinet Kerja serta Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Penanaman serentak pada acara kali ini dilaksanakan di Desa Karangasem, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Sekitar pukul 10.30 WIB, Presiden RI hadir menggunakan helikopter. Pendaratan helikopter disiapkan di lapangan bola Karangasem tidak jauh dari tempat acara berlangsung. Setelah mendarat, Bapak Joko Widodo langsung menuju tempat penanaman.

Presiden RI menekan tombol sirine, bel berbunyi tanda penanaman serentak dimulai, 45.000 bibit ditanam di bukit-bukit desa Karangasem. Joko Widodo menanam Pohon Jati,  serentak diikuti oleh 3.000 warga dan petani sekitar.

Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung menjelaskan bahwa bibit pohon yang ditanam di bukit ada 3 jenis. Larikan pertama paling bawah ditanam jenis Jati, kedua ditanam tanaman jenis Akasia, dan paling atas diisi bibit buah-buahan. “Jati ditanam paling bawah dikarenakan dapat menembus solum tanah yang keras dan berbatu serta dapat bertahan hidup di cuaca kering, Akasia ditanam di tengah sebagai tanaman pengisi dan buah-buahan ditanam paling atas untuk persediaan makanan  monyet atau habitat kera berekor panjang, tujuannya agar tidak mengganggu tanaman milik masyarakat” kata beliau menjelaskan kepada Presiden usai penanaman.

Menuju podium acara, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan sambutan pertama. Tema HMPI dan BMN kali ini yaitu “Kerja Bersama : Makmurkan Rakyat, Lestarikan Alam. Maksud dari tema tersebut yaitu bahwa pengelolaan hutan dan lahan tidak lepas dari keterlibatan seluruh pihak, baik instansi pemerintah (pusat/ provinsi/ kabupaten/ kota). Pelaku usaha (BUMN/ BUMD/ BUMS), maupun organisasi massa dan masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan hutan dan lahan. Kegiatan pengelolaan hutan dan lahan harus memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat seiring dengan peningkatan produktivitas hutan dan lahan serta terpeliharanya kelestarian alam.

Ibu Siti Nurbaya menjelaskan pelaksanaan di tempat ini karena inisiatif masyarakat untuk menghijaukan lahan kritis di daerah bercuaca ekstrim serta menjaga ketersediaan air bawah tanah di daerah karst yang terdapat di daerah Ponjong Gunungkidul. Lahan yang merupakan lahan Sultan Ground ini telah ditanami 45.000 bibit di 5 bukit seluas 15 Ha. Pelaksanaan penanaman massal ini melibatkan petani dan warga sekitar kurang lebih 3.000 orang, kemudian hasil panen kayu dibantu diurus oleh koperasi. Di tempat ini juga dihuni habitat kera berekor panjang yang dapat mengganggu tanaman pertanian milik masyarakat bila pakan alami tidak tersedia.

Usai memberikan sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyerahkan penghargaan kepada pelopor/masyarakat yang telah berkontribusi nyata dalam menghijaukan lahan kritis serta merawat tanaman sampai hidup dengan baik di suatu daerah. Bapak Joko Widodo juga dipersilahkan untuk menyerahkan bantuan berupa 10 unit KBR (Kebun Bibit Rakyat) senilai 0,5 milyar. Bantuan KBR ini diberikan untuk memotivasi masyarakat atau petani dalam menanam pohon sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. Melalui KBR, masyarakat didorong mulai dari membuat bibit sesuai dengan jenis yang dinginkan untuk ditanam di lahan milik masyarakat ataupun fasilitas sosial/umum lainnya. Hasil dari KBR, baik berupa kayu maupun buah merupakan milik masyarakat. Presiden RI memberikan sambutan dan arahan setelah menyerahkan bantuan kepada masyarakat. Bapak Joko Widodo menegaskan agar penanaman pohon tidak hanya seremonial, namun harus ditindak lanjuti dengan pemeliharaan sehingga dapat menghasilkan manfaat untuk rakyat. “Rakyat senang hal konkrit, nyata dan manfaat nyata.” kata Presiden RI.

ATLET ASIAN GAMES BAKAL TANAM POHON DI SUMSEL

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) terus menggalakan penghijauan di Sumatera Selatan. Salah satunya dengan mengajak 10 – 15 ribu atlet ASIAN GAMES 2018 untuk menanam pohon di Sumsel.

Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung (PDASHL) Dr. Ir. Hilman Nugroho, MP menjelaskan, perhelatan ASIAN GAMES 2018 menjadi salah satu momen yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan penghijauan di Indonesia terutama di Sumsel.

“Atlet yang bakal dating itu sekitar 10-15 ribu  dari berbagai negara di kawasan Asia. Jadi mereka akan diminta untuk menanam pohon yang telah disediakan, ujar beliau usai penanaman dan penandatanganan MoU pembangunan hutan serbaguna antar Dirjen PDASHL dengan rektor Universitas Bina Darma (UBD) dan Bupati Ogan Ilir di halaman kampus UBD, Kamis (30/11/2017).

Menurut Dirjen PDASHL, pihaknya telah menyediakan pohon dan bibit untuk ditanam dan siap dibagikan kepada masyarakat termasuk atlet Asian Games. Penanaman pohon ini diungkapkan Hilman Nugroho untuk memperingati hari menanam pohon yang jatuh setiap tanggal 28 November.

“Dari bulan November hingga Desember kita kerap melakukan penanaman pohon. Target kita setiap orang harus menanam pohon minimal sebanyak 25 pohon selama hidup,” tutup Dirjen PDASHL.

 

sumber : globalplanet.news

 

Galeri Video

Galery Foto

Sky Bet by bettingy.com

Kalendar

February 2018
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

LOGIN