PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA

DAN BULAN MENANAM NASIONAL 2017

Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (HMPI dan BMN) dilaksanakan tiap tahun pada tanggal 28 November. Pada tahun ini HMPI dan BMN diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2017 yang dihadiri oleh Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup dan KehutananDr. Siti Nurbaya, para Menteri Pada Kabinet Kerja serta Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Penanaman serentak pada acara kali ini dilaksanakan di Desa Karangasem, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Sekitar pukul 10.30 WIB, Presiden RI hadir menggunakan helikopter. Pendaratan helikopter disiapkan di lapangan bola Karangasem tidak jauh dari tempat acara berlangsung. Setelah mendarat, Bapak Joko Widodo langsung menuju tempat penanaman.

Presiden RI menekan tombol sirine, bel berbunyi tanda penanaman serentak dimulai, 45.000 bibit ditanam di bukit-bukit desa Karangasem. Joko Widodo menanam Pohon Jati,  serentak diikuti oleh 3.000 warga dan petani sekitar.

Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung menjelaskan bahwa bibit pohon yang ditanam di bukit ada 3 jenis. Larikan pertama paling bawah ditanam jenis Jati, kedua ditanam tanaman jenis Akasia, dan paling atas diisi bibit buah-buahan. “Jati ditanam paling bawah dikarenakan dapat menembus solum tanah yang keras dan berbatu serta dapat bertahan hidup di cuaca kering, Akasia ditanam di tengah sebagai tanaman pengisi dan buah-buahan ditanam paling atas untuk persediaan makanan  monyet atau habitat kera berekor panjang, tujuannya agar tidak mengganggu tanaman milik masyarakat” kata beliau menjelaskan kepada Presiden usai penanaman.

Menuju podium acara, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan sambutan pertama. Tema HMPI dan BMN kali ini yaitu “Kerja Bersama : Makmurkan Rakyat, Lestarikan Alam. Maksud dari tema tersebut yaitu bahwa pengelolaan hutan dan lahan tidak lepas dari keterlibatan seluruh pihak, baik instansi pemerintah (pusat/ provinsi/ kabupaten/ kota). Pelaku usaha (BUMN/ BUMD/ BUMS), maupun organisasi massa dan masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan hutan dan lahan. Kegiatan pengelolaan hutan dan lahan harus memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat seiring dengan peningkatan produktivitas hutan dan lahan serta terpeliharanya kelestarian alam.

Ibu Siti Nurbaya menjelaskan pelaksanaan di tempat ini karena inisiatif masyarakat untuk menghijaukan lahan kritis di daerah bercuaca ekstrim serta menjaga ketersediaan air bawah tanah di daerah karst yang terdapat di daerah Ponjong Gunungkidul. Lahan yang merupakan lahan Sultan Ground ini telah ditanami 45.000 bibit di 5 bukit seluas 15 Ha. Pelaksanaan penanaman massal ini melibatkan petani dan warga sekitar kurang lebih 3.000 orang, kemudian hasil panen kayu dibantu diurus oleh koperasi. Di tempat ini juga dihuni habitat kera berekor panjang yang dapat mengganggu tanaman pertanian milik masyarakat bila pakan alami tidak tersedia.

Usai memberikan sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyerahkan penghargaan kepada pelopor/masyarakat yang telah berkontribusi nyata dalam menghijaukan lahan kritis serta merawat tanaman sampai hidup dengan baik di suatu daerah. Bapak Joko Widodo juga dipersilahkan untuk menyerahkan bantuan berupa 10 unit KBR (Kebun Bibit Rakyat) senilai 0,5 milyar. Bantuan KBR ini diberikan untuk memotivasi masyarakat atau petani dalam menanam pohon sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. Melalui KBR, masyarakat didorong mulai dari membuat bibit sesuai dengan jenis yang dinginkan untuk ditanam di lahan milik masyarakat ataupun fasilitas sosial/umum lainnya. Hasil dari KBR, baik berupa kayu maupun buah merupakan milik masyarakat. Presiden RI memberikan sambutan dan arahan setelah menyerahkan bantuan kepada masyarakat. Bapak Joko Widodo menegaskan agar penanaman pohon tidak hanya seremonial, namun harus ditindak lanjuti dengan pemeliharaan sehingga dapat menghasilkan manfaat untuk rakyat. “Rakyat senang hal konkrit, nyata dan manfaat nyata.” kata Presiden RI.

ATLET ASIAN GAMES BAKAL TANAM POHON DI SUMSEL

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) terus menggalakan penghijauan di Sumatera Selatan. Salah satunya dengan mengajak 10 – 15 ribu atlet ASIAN GAMES 2018 untuk menanam pohon di Sumsel.

Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung (PDASHL) Dr. Ir. Hilman Nugroho, MP menjelaskan, perhelatan ASIAN GAMES 2018 menjadi salah satu momen yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan penghijauan di Indonesia terutama di Sumsel.

“Atlet yang bakal dating itu sekitar 10-15 ribu  dari berbagai negara di kawasan Asia. Jadi mereka akan diminta untuk menanam pohon yang telah disediakan, ujar beliau usai penanaman dan penandatanganan MoU pembangunan hutan serbaguna antar Dirjen PDASHL dengan rektor Universitas Bina Darma (UBD) dan Bupati Ogan Ilir di halaman kampus UBD, Kamis (30/11/2017).

Menurut Dirjen PDASHL, pihaknya telah menyediakan pohon dan bibit untuk ditanam dan siap dibagikan kepada masyarakat termasuk atlet Asian Games. Penanaman pohon ini diungkapkan Hilman Nugroho untuk memperingati hari menanam pohon yang jatuh setiap tanggal 28 November.

“Dari bulan November hingga Desember kita kerap melakukan penanaman pohon. Target kita setiap orang harus menanam pohon minimal sebanyak 25 pohon selama hidup,” tutup Dirjen PDASHL.

 

sumber : globalplanet.news

 

Ajak Masyarakat Belajar Cinta dari Pohon


Rabu 22 November 2017, Garut Jawa Barat

 

"Pohon, memberi apa yang tak sanggup manusia beri

Pohon, memberi  manfaat yang tak terhingga

Pohon, dia memberikan manfaat walau dia diam saja ketika manusia menyakitinya

Pohon, tak pernah berkhianat dan ingkar pada tugasnya

Lewat akarnya, pohon mampu menyerap air dari kelongsoran dan kebanjiran

Lewat daunnya, pohon mampu mengatur kelembaban

Manusia melemparnya dengan batu, dia jatuhkan buah dan bunga

Manusia melukai dan mencongkel batangnya, dia keluarkan getah

Pohon mengajarkan cinta tanpa batas pada kita"

 

Sepenggal puisi di atas memeriahkan sambutan artis yang memerankan Jenderal Naga Bonar, Bapak Deddy Mizwar. Wakil Gubernur Jawa Barat ini mengajak masyarakat untuk mencintai lingkungan serta tidak menebang pohon sembarangan di daerah Hulu Cimanuk. Beliau menyebutkan kejadian tahun 2016 di Kabupaten Garut sangat memprihatinkan. Kejadian banjir yang menelan korban tidak sedikit ini, membutuhkan kegiatan yang dapat mencegah bencana itu terjadi lagi.

Suatu langkah yang baik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan beserta pemerintah daerah untuk memelihara daerah hulu dengan cara menanam. Wakil Gubernur Jabar mengapresisasi atas komitmen besar kegiatan menanam ini. Tidak hanya pemerintah daerah yang mengawal tetapi semua masyarakat khususnya daerah Hulu Cimanuk diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) pasca bencana dari hati yang paling dalam.

Kegiatan RHL pasca bencana DAS Cimanuk Hulu ini diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Cimanuk Citanduy di kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut Jawa Barat. Acara ini dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Dr. Siti Nurbaya didampingi Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Bapak Dr. Hilman Nugroho. Ketua Panitia penyelenggara Ir. R. Dodi Susanto, MP menjelaskan luas lahan kritis yang berada di Hutan Lindung DAS Cimanuk Hulu Kabupaten Garut seluas 2.784,02 Ha. Kegiatan RHL yang dilaksanakan pada tahun 2017 di wilayah ini yaitu reboisasi konvensional seluas 1.064,57 Ha yang meliputi 18 Desa, bangunan Konservasi Tanah dan Air Dam Penahan sebanyak 275 bangunan serta Gully Plug sebanyak 159 bangunan. Kegiatan lainnya yaitu RHL Aerial Seeding (penanaman atau penaburan benih melalui udara) seluas 5.404,48 Ha. Kegiatan Aerial Seeding ini dilakukan pada daerah yang sulit dijangkau dalam pelaksanaan penanamannya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam sambutannya terus menggelorakan agar kegiatan RHL Pasca bencana DAS Cimanuk Hulu harus berjalan dengan baik dan didukung oleh pemerintah daerah. Tidak hanya dari pemerintah pusat atau daerah tetapi warga masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Warga masyarakat yang terbentuk dari suatu kelompok LMDH telah bersedia dalam ikrarnya untuk membantu usaha pemerintah dalam mencegah bencana banjir agar tidak terulang kembali.

 

BIBIT JAMBU KRISTAL DIBAGIKAN SECARA GRATIS
KEPADA MASYARAKAT PEMALANG

23 September 2017, riuh pikuk masyarakat antusias menerima pembagian bibit Jambu Kristal. Lokasi Rest Area Bale Gandrung Desa Gambuhan Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang Jawa Tengah penuh dengan masyarakat sekitar.

Jumlah 3000 bibit Jambu Kristal telah dibagikan dengan harapan setelah pulang dari acara ini, bibit segera ditanam dan terus dipelihara. Bantuan bibit ini sudah diharapkan masyarakat sejak lama. Apalagi bibit Jambu Kristal ini merupakan bibit buah-buahan yang nantinya buah jambu kristal ini dapat dijual untuk tambahan pendapatan masyarakat, kata salah satu petani di Desa Gambuhan.

Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bapak Dr. Hilman Nugroho berharap bahwa setelah ditanam, sekitar 4-5 tahun lagi Pemalang bisa menjadi Kabupaten Wisata khususnya wisata buah-buahan. "Kami sediakan bibit secara gratis, dengan cara hubungi kantor BPDASHL setempat" ujar beliau.

Peluncuran Prangko Edisi Khusus

“Tanam 25 Pohon Selama Hidup”

Jakarta, 2 agustus 2017. Prangko seri lingkungan hidup tahun 2017, diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dalam acara Hari Lingkungan Hidup 2017 di Jakarta kemarin. Terobosan terbaru gagasan Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Dr. Hilman Nugroho menerbitkan prangko yang berisi ajakan untuk menanam pohon paling sedikit 25 pohon seumur hidup.

Ide gagasan menanam pohon 25 selama hidup pada awalnya muncul sekitar 2 tahun yang lalu oleh Dr. Hilman Nugroho. Menanam 25 pohon dapat dilakukan pada saat SD, SMP, SMA, kuliah dan saat menikah  masing-masing 5 pohon.

Prangko seri lingkungan hidup 2017 ini didominasi oleh warna hijau, yang menggambarkan upaya Kementerian LHK untuk menghijaukan lahan kritis di Indonesia.

Tulisan “Tanam 25 Pohon Selama Hidup” merupakan slogan yang berisi ajakan kepada seluruh masyarakat untuk menanam minimal 25 pohon selama hidup sebagai wujud terima kasih kepada alam.

Gambar tangan kiri dan kanan membentuk angka 25 menggambarkan upaya pemerintah untuk menumbuhkembangkan budaya cinta lingkungan kepada masyarakat Indonesia, sejak usia dini untuk secara sukarela menanam pohon sebanyak 25 pohon selama hidup.

Latar belakang yang beragam, menggambarkan bahwa menanam 25 pohon selama hidup, dapat memberikan banyak manfaat yaitu perbaikan kondisi DAS, perbaikan kualitas udara, perbaikan kualitas, kuantitas dan kontinuitas air serta perbaikan kondisi perekonomian masyarakat Indonesia.

Pencegahan Banjir dan Tanah Longsor dengan Penanaman

Hari rabu tanggal 15 Maret 2017 dilaksanakan agenda komunikasi public kepada media massa dari Ditjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Acara ini dilaksanakan di ruang sonokeling gedung manggala wanabakti yang dihadiri beberapa wartawan. Tema yang diangkat yang dipaparkan kepada media massa adalah Upaya Pencegahan Banjir dan Tanah Longsor dengan narasumber Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung.
Bencana lingkungan yang dibahas adalah bencana banjir dan longsor. Menurut Hilman Nugroho Dirjen PDASHL Banjir didefinisikan sebagai fenomena alam yang terjadi dikarenakan debit aliran sungai melebihi daya tampungnya. Dicontohkan bila ada gelas yang diisi dengan air melebihi daya tampung gelas tersebut, maka air akan meluber. Air meluber itulah yang disebut banjir.  Kemudian longsor adalah pergeseran masa tanah yang diakibatkan tingkat kejenuhannya melebihi kemampuan dalam mengikat air.
Sebelum menguraikan lebih jauh mengenai banjir dan longsor, Dirjen PDASHL menjelaskan penyebabnya dari sudut pandang Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS adalah seluruh wilayah daratan yang mempunyai fungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan secara alam sampai ke outlet (danau atau laut) yang mempunyai batas DAS yaitu puncak-puncak gunung. “Jadi jika ditanya DAS itu sungai, bisa menyempit, itu pernyataan salah” tegas Hilman Nugroho.  “DAS itu ya seluruh wilayah daratan, sungai itu bagian dari DAS, yang ibu bapak duduki sekarang ini bagian dari DAS Ciliwung” tambah beliau.  Bentuk DAS dibagi menjadi 4 yaitu bentuk bulat seperti di Dayeuh Kolot Bandung, bentuk segitiga terbalik seperti di Padang dan Palu, bentuk advokat dan bentuk memanjang seperti contoh di Jakarta. Di Indonesia terdapat 11.000 DAS dan prioritas yang ditangani ada 108 DAS serta sangat prioritas tahun 2015-2019 ada 15 DAS.
Kejadian banjir itu disebabkan karena 2 hal yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam dapat dilihat dari bentuk DAS tersebut. Dapat dilihat dari kejadian banjir yang terjadi di daerah Deyeuh Kolot dengan bentuk DAS bulat. Faktor alam dengan bentuk das yang sudah bulat seperti mangkok walaupun hujan sebentar saja akan terjadi banjir karena air akan masuk terus ke dalam daerah tersebut. Faktor alam lain seperti curah hujan, lamanya hujan, topografi, jenis tanah dll. Faktor manusia yang bisa menyebabkan banjir adalah kesesuaian tata ruang yang tidak memperhatikan kaidah konservasi  seperti pemanfaatan lahan untuk perkebunan di daerah hulu, adanya pertambangan dan adanya perambahan.
Adanya lahan kritis yang masih luas di Indonesia dapat mempengaruhi  penyebab kejadian banjir dan longsor. Lahan kritis tersebut hubungannya ada pada tutupan lahan. Semakin sedikit tutupan lahan maka jatuhnya air hujan akan semakin banyak ke permukaan dan sedikit penyerapan ke dalam tanah.  Maka air yang tidak terserap tersebut akan menyebabkan banjir. Dirjen PDASHL Hilman Nugroho menghimbau agar semua masyarakat tidak hanya instansi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk menanam, menanam dan menanam.  Dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2013, luas lahan kritis di Indonesia mengalami penurunan. Tahun 2006 luas lahan kritis mencapai + 30 jt Ha, tahun 2011 menurun menjadi + 27 juta Ha, dan terakhir di tahun 2013 luas lahan kritis + 24 juta Ha. Tidak mungkin hanya Instansi  Kementerian LHK atau dari dana APBN saja yang harus dibebankan untuk menanam guna mengurangi lahan kritis sebanyak 24 juta Ha dalam waktu singkat. Maka dari itu Dirjen PDASHL sekaligus Ibu Menteri LHK meminta seluruh masyarakat dilibatkan untuk segera menanam di daerah lahan kritis atau di lahan kosong tersebut. Partisipasi Ditjen PDASHL dalam memfasilitasi penghijauan tersebut seperti bibit gratis yang tersedia di 50 persemaian permanen di seluruh Indonesia, adanya KBR (Kebun Bibit Rakyat), adanya kerjasama untuk penanaman dengan dikti, dinas, perusahaan swasta dan stakeholder lainnya. “Jadi jika pekerjaan ini tidak dikeroyok dengan bantuan masyarakat untuk melakukan penanaman maka 24,3 juta lahan kritis ini tidak akan selesai-selesai. Padahal kalau 24,3 juta lahan ini bisa hijau maka so pasti masyarakat akan lebih sejahtera, coba dibayangkan ada pohon ada air, ada air ada kehidupan, ada kehidupan ada kesejahteraan” tutur Hilman Nugroho.

 

Galeri Video

Kalendar

December 2017
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

LOGIN